Halaman

Minggu, 30 Mei 2010

Taman Nasional Bukit 30

Pentingnya Rasionalisasi Taman Nasional Bukit 30

ContourRasionalisasi Taman Nasional Bukit 30 (TNBT) merupakan sebuah ikhtiar menuju pengelolaan kawasan konservasi yang lebih optimal. Sebab, dengan bentuk yang berkelok, menjari serta memiliki keliling (perimeter) yang sangat panjang sangat menyulitkan dalam pengamanan, dan malah bisa memberi peluang untuk dieksploitasi. Bahkan di sisi selatan, yang berada di wilayah Propinsi Jambi, bentuknya serupa gagang pistol.

Kawasan konservasi yang kompak dan beraturan akan mempermudah perencanaan, pengeolaan dan pengawasan. Dan, tentu saja, bentuk yang rasional akan mengurangi risiko fragmentasi habitat. Dari aspek hukum (UU No 24/Tahun 1992), upaya ini bisa direalisasikan, asal areal yang hendak dirasionalkan berada pada kelerengan di atas 40 persen.

Fakta di lapangan, hampir sebagian besar areal yang berada di kawasan penyangga TNBT memiliki areal hutan dengan topografi di atas 40 persen. Topografi yang relatif curam, dan tergolong kriteria lindung, tentu cukup berasalan untuk dimasukkan ke dalam kawasan taman. Beberapa hasil penelitian yang pernah dilakukan di kawasan hutan Bukit 30, cukup mendukung ikhtiar itu, baik dari aspek fisik maupun biologi, seperti resume di bawah ini.

I. Aspek Fisik
Secara fisik rencana perluasan TN Bukit 30 amat memungkinkan, mengingat batas yang ada sekarang memiliki kelerengan relatif curam (di atas 40 persen), sehingga jika dilakukan penebangan akan mengganggu keseimbangan ekologi yang ada.

Dari sisi topografi, kemiringan lerengnya berkisar agak curam (30-45 %), sampai curam (45 – 65 %). Hanya sebagian kecil saja arealnya yang relatif datar. Penggunaan lahan yang sesuai pada daerah ini adalah hutan lindung.
DenganSlope map topografi berbukit, kedalaman tanah di lokasi juga bervariasi, mulai dari 30 cm sampai 150 cm. Pada kedalaman 30 cm, sangat riskan untuk dikembangkan selain fungsi hutan lindung. Alasan, kalau vegetasi penutup di atas tanah yang dangkal sempat terbuka maka dapat dipastikan erosi akan menghebat.

Begitu juga dari sisi kesuburan tanah. Kandungan C-organik hanya tinggi pada permukaan saja. Jika lapisan atasnya tererosi maka kandungan C-organiknya akan rendah dan bahkan sangat rendah. (“Studi Kemungkinan Perluasan Areal TN Bukit 30 di Propinsi Jambi”, Hasil Penelitian Kerjasama Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor- WWF TN Bukit 30: 1996).

Pada areal HPH PT Dalek Hutan Esa, sisi Barat TN Bukit 30 yang masuk dalam wilayah Jambi, sisi kelerengan diambil melalui empat titik, yakni:

Titik


Koordinat


Ketinggian

mdpl


Kemiringan

Atas Bawah

I


01 09’ 30” LS dan 102 34’ 51,7” BT


320


85% 80%

II


01 08’ 56” LS dan 102 35’ 29” BT


322


60% 65%

III


01 12’ 29” LS dan 102 38’ 29” BT


173


70% 70%

IV


01 14’ 34” LS dan 102 38’ 56,7” BT


320


50% 25%

Sementara pada areal HPH Hatma Hutani, sisi timur TN Bukit 30 ada dua titik kelerengan yang diambil, yakni:

V


01 07’ 29” LS dan 102 45’ 51” BT


177


60% 65%

VI


01 08’ 27” LS dan 102 45’ 26” BT


142


12% 5%

(Hasil Peninjauan Lapangan dalam rangka Rasionalisasi TN Bukit 30, Maret 2001)

II. Aspek Biologi

1. Flora
Kekayaan keragaman hayati yang terdapat dalam hutan Bukit 30 sudah dibuktikan mlalui berbagai hasil penelitian. Ada jenis yang endemik dan khas, seperti Johannesteijsmannia altifrons, Aquillaria malaccensis (jenis ini termasuk dalam daftar CITES appendix II), Pinanga spp., Iguanura spp., Licuala spp., yang dapat dijumpai di Sungai Alo dan kawasan HPH PT Dalek.

Hasil koleksi spesimen herbarium yang berhasil dikumpulkan, tercatat 107 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat Melayu, 176 jenis oleh masyarakat Talang Mamak, 45 jenis oleh Suku Kubu (Orang Rimba) dan 47 jenis berguna bagi transmigran suku Jawa.

Malah jenis Rafflesia hasseltii, flora endemik, unik dan sudah sangat langka, ditemukan di Hutan Semambu. Tumbuhan ini umumnya berkelamin tunggal dan sampai saat ini belum diketahui cara pembudidayaannya. (Penelitian Diversitas Flora di Kawasan Hutan Berbatasan dengan TN Bukit 30, kerjasama Puslitbang LIPI-WWF Bukit 30: 1996)

Kawasan ini juga memiliki potensi keragaman jenis tumbuhan obat. Hingga kini, terdapat potensi biota medika sebanyak 182 jenis tumbuhan obat dan 8 jenis cendawan yang selama ini dimanfaatkan oleh Suku Melayu Tradisional Riau. Landsat Image Sementara itu, biota medika yang selama ini sudah dimanfaatkan Suku Talang Mamak berjumlah 110 jenis tumbuhan obat dan 22 jenis cendawan obat. (Ekspedisi Biota Medika di TN Bukit 30 dan Cagar Biosfer Bukit 12, Kerjasama Depkes, IPB, UI dan LIPI: 1998)

Jenis flora yang tumbuh di kawasan TN Bukit 30 memang belum teridentifikasi secara menyeluruh. Diperkirakan ada ribuan spesies yang tumbuh di kawasan ini. Selain tumbuh-tumbuhan penghasil kayu, getah dan rotan, di kawasan ini terdapat tumbuhan obat, yang jumlahnya lebih dari 520 spesies (Waldemar, Kondisi dan Permasalahan TNBT, makalah Lokakarta TNBT: 1999)

Penelitian Norindra juga mencatat kekayaan flora hutan basah di Bukit 30. Sejumlah 700 nama spesies flora yang digunakan penduduk setempat telah dicatat, termasuk di dalamnya 79 spesies tanaman buah-buahan dan 246 tanaman obat. (Gambaran Umum TN Bukit 30 dan Kawasan Penyangga, kerjasama WWF TN Bukit 30-Warsi: Tahun 1999)

2. Fauna
Kekayaan Fauna yang hidup di TN Bukit 30 diperkirakan lebih dari 16 jenis mamalia (tidak termasuk 18 jenis kelelawar yang telah teridentifikasi), 151 jenis burung, beberapa jenis reptil, amphibia, ikan dan jenis-jenis insekta. Sedang fauna langka yang terdapat dalam kawasan ini antara lain: Panthera tigris sumatraensis, Hylobates sp., Tapirus indicus, Bucerotidae, Argusianus argus. (Waldemar, Kondisi dan Permasalahan TNBT, makalah Lokakarya TNBT: 1999)

Vegetasi hutan pada empat lokasi pencuplikan di areal kerja TN Bukit 30 wilayah Jambi, memiliki keragaman jenis yang relatif tinggi, yakni 124 jenis, 98 marga, 53 suku. Dari jumlah ini 25 jenis di antaranya terdapat di 4 lokasi pencuplikan. Suku yang memiliki jumlah jenis cukup banyak antara lain suku Dipterocarpaceae 14 jenis (11,3%) dan Euphorbiaceae (8,9%). (“Studi Kemungkinan Perluasan Areal TN Bukit 30 di Propinsi Jambi”, Hasil Penelitian Kerjasama Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor- WWF TN Bukit 30: 1996)

Penelitian yang dilakukan Direktorat PHPA (1977), FAO (1982) dan Norindra (1992) mencatat keragaman hayati yang tinggi di Bukit 30. Tercatat 59 spesies mamalia di kawasan ini, termasuk gajah Sumatera, harimau Sumatera dan tapir, yang sudah terancam punah. Lalu, tercatat pula 192 spesies burung, atau hampir sepertiga jumlah semua spesies burung yang ada di Sumatera yang ditemukan di Bukit 30 dan 10 spesies di antaranya sudah terancam punah. (Gambaran Umum TN Bukit 30 dan Kawasan Penyangga, kerjasama WWF TN Bukit 30-Warsi: Tahun 1999).


Copyright © WARSI 1999 - 2007. All Rights Reserved.